Suplier Duku Komering Asli!

manisnya duku komering bak si buta dan gajah

- Wednesday, April 1, 2015
 duku komering
Kalau kita gunakan kata kunci “duku” pada google, maka akan banyak kita temukan artikel-artikel yang memuat tentang duku, terutama tentang duku komering dan rasanya.

Karena sedemikian banyaknya tulisan tentang duku, terutama mengenai rasanya, sehingga saya teringat cerita Si Buta dan Gajah. Kurang lebih ceritanya sebagai berikut:

Ada kisah 3 (bisa 4, 5 dst) orang buta jalan-jalan ke kebun binatang, mereka diperkenalkan dengan seekor gajah dan dipersilakan untuk menyetuhnya. Si buta pertama memegang telinga, si buta kedua memegang gading dan si buta ketiga memegang belalai dari gajah tsb. Akhirnya mereka bercerita kepada teman-temannya dengan kesimpulan yang berbeda-beda tetang gajah;

Si Buta pertama dengan yakin bercerita kepada temannya “Oo.. gajah itu lebar dan lembek” karena dia memegang bagian telinga.

Si Buta kedua tidak mau kalah, dia juga bercerita kepada teman yang lainnya “Oooo…Gajah itu ternyata keras dan runcing” karena dia memegang bagian gading.

Begitu juga si Buta ketiga dengan yakinnya menceritakan pengalaman/kesimpulannya tentang gajah, sesuai dengan pengalamannya ketika itu dapat kesempatan memegang belalai.

Berikut ini Si Buta keempat (kebunimpianku) ingin juga berbagi pengalaman dengan teman-teman bloggers tentang rasa dan perkembangan pemasaran duku Komering khususnya.

Banyak saya temukan penulis blog yang kampung halamannya dari daerah OKU, mengaku duku dari daerah OKU yang paling manis, begitu juga kalau penulis dari daerah OKI, atau Condet. Bahkan ada orang dari daerah lain yang kebetulan jalan-jalan dan mampir di daerah tertentu, menulis/ menceritakan pula duku dari daerah itulah yang paling manis. Saya juga pernah membaca, (sepertinya penulisnya juga berasal dari daerah Jambi, paling tidak narasumbernya) menceritakan juga duku Kumpehlah yang paling bagus dan manis, bahkan sudah dapat pengakuan/sertifikat dari Menteri Pertanian, yang mengakui duku Kumpeh paling baik dari segi kualitas dan paling manis dari segi rasa. Terlintas dalam pikiran saya jangan-jangan menterinya belum pernah melihat dan merasakan duku dari daerah lain, karena Kumpeh adalah salah satu daerah yang belum pernah kami jajaki/masuki, (belum ada relasi/penunjuk jalan) sehingga sampai saat ini saya belum pernah menjual atau mendapat kiriman dari daerah itu, sehingga saya tidak berani mengkomentari… (bolehlah kalo ada teman dari kumpeh ingin coba kerjasama berbisnis duku di Pasar Induk Keramat Jati Jakarta).

Daerah asal duku yang yang pernah kami jual sbb:

Sumatera Barat ; Koto Baru.

Riau ; Sremsem.

Jambi : Teluk Kuali, Tungkal Ulu, Lubuk Lawas, Tungkal Ilir, Kertapati Srilangon Bangko, Kubu Kandang

Sumatera Selatan : Sekayu; Kemang dll.. Musirawas; Rupit… Muara Enim: Maragulo, Tanjung Jambu, Hujan Mas Gedung Agung, dan Parjito… OKU Barat: Batu Raja; Durian, Peninjauan dan Lubuk Rukam… OKU Timur: Rasuan, Botung, Suka Negeri, Gunung Jati, Gunung Batu ddl. OKI: Dari Desa Ulak Kapal (perbatasan OKU Timur dan OKI) terus ke ilir sampai dengan Desa Muara Baru. OI (?) Kijang, Pangpangan dll.

Lampung : Bukit Kemuning; Ogan 5 dan Ogan 3

Berdasarkan pengalaman, duku Komering, Muara Enim dan duku Rupit sulit dibedakan dalam hal bentuk maupun rasa, lain halnya dengan duku dari daerah Jambi, Sekayu, Lampung dan OKU Barat khususnya Muara Dua.

Duku dari daerah Jambi (tidak termasuk Kumpeh alasannya sudah saya kemukakan di atas) rata-rata bentuknya bulat, kulitnya tipis, bijinya besar dan manisnya kurang apabila dibandingkan dengan duku Komering, Muara Enim dan Rupit. Tapi Allah Maha Adil. Panen duku Jambi rata-rata sebelum duku di daerah lain panen, karna tidak ada saingan harga jualnya selalu tinggi.

Duku dari daerah Sekayu rata-rata bentuknya besar, putih dan lonjong, sehingga dari segi penampilan duku Sekayu sangat menarik dan unggul dari daerah yang lain. (Karena penampilan yang sanyat menarik sehingga kami beri nama MANOHARA). Namun rasanya tetap kalah apabila di bandingkan dengan duku Komering, Muara Enim dan Rupit. Sekali lagi Allah Maha Adil… Karena penampilannya sangat menarik duku Sekayu tidak kalah bersaing dalam hal harga bahkan sesekali menang.

Duku dari daerah Lampung kualitasnya sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain, kecuali dari daerah Bukit Kemuning (Ogan 3 dan Ogan 5) duku dari daerah ini hampir mirip dengan duku komering, bentuk maupun rasanya, kondisi ini kemungkianan disebabkan letak daerahnya sudah dekat dengan daerah OKU. Cara pengemasan duku Lampung juga berbeda dengan daerah lainnya, duku Lampung dikemas dalam karung, sedangkan dari daerah lainnya dengan peti (isi bersih 1 peti kl 14,5 kg), begitu juga cara menjualnya, duku Lampung dijual per kilo atau kilo an sedangkan dari daerah lain per peti. Duku Lampung sebelum masa panen cukup, sering diserang hama “MANGKAS” (sejenis Kelelawar), karena itu petani berlomba siapa lebih dulu memanen/memetiknya dengan mangkas, oleh karena itu akibatnya rasa kurang manis, (alias duku belum mateng sudah dipetik).

Si Buta keempat juga menyimpulkan duku Komering, Muara Enim dan Rupitlah rasa manisnya di atas rata-rata duku dari daerah lain. Namun demikian tidak semua duku Komering dan yang lainnya manis, yang menentukan rasa duku manis adalah; masa panen cukup, umur pohon sudan di atas 40 tahun, lokasi tumbuhnya pohon tidak dihalangi oleh tumbuhan lain dan tidak terendam dalam air pada saat berbuah.

Biasanya apabila pohon duku tumbuhnya tidak terhalangi tumbuhan lain (menyendiri), warnanya merah keemasan/merah karat dan rasanya sangat manis.. Nah apabila unsur-unsur di atas terpenuhi, maka duku akan terasa; manis-legit dan bijinya kurang/tidak besar meskipun buahnya besar.

Sebelum tahun 1974 duku Komering dipasarkan masih bersipat lokal, paling keren ke Kota Palembang itupun alat transportasinya dengan perahu melalui sungai komering.

Pada tahun 1974/1975 dipelopori oleh pedagang buah dari Pasar Induk Keramat Jati Jakarta Timur yaitu Alm. Naenggolan, pemasaran duku Komering mulai masuk ke Jakarta melalui pelabuhan Panjang. Sesuai dengan perkembangan pembangunan di Indonesia pada tahun 1981 duku Komering masuk Jakarta sudah melalui pelabuhan Bakauheni. (Narasumber supir senior dari desa Pengarayan Ratu Man/Usman dan Jaya Safuan/Iwan)

Kalau kita (orang komering) mau jujur, Alm. Naenggolan lah yang paling berjasa mempopulerkan duku komering kepada masyarakat Indonesia… Terima kasih atas jasamu Almarhum..

Tidak hanya ke Jakarta duku komering di “exsport”, tetapi sudah merambah ke kota-kota besar lain di pulau Jawa, bahkan sudah meluas ke Medan, Pekan Baru dan Batam. (Kota Palembangnya sendiri “dianaktirikan”).

Dengan demikian tiada kata yang paling pantas saya ucapkan. “Terima kasih ya Allah, telah Engkau tumbuh suburkan duku di daerah kami, sehingga sudah banyak dari kami yang telah meningkat taraf hidunya, karena itu kami memohon tingkatkan pula iman dan taqwa kami kepadamu ya Allah. Amiin.

Sumber : https://kebunimpianku.wordpress.com/2010/08/02/manisnya-duku-komering-bak-si-buta-dan-gajah/

No comments:

Post a Comment

Dapatkan Pembaruan Gratis!

Masukkan email anda untuk mendapatkan kabar terbaru dari kami